Senin, 28 November 2011

Cara Yamaha Persiapkan Teknologi Injeksi

Sepeda motor akan mengalami pergantian teknologi besar-besaran dari karburator ke injeksi.

Senin, 28 November 2011, 10:20 WIB
Hadi Suprapto, Sandy Adam Mahaputra
VIVAnews - Yamaha kembali menggelar Indonesia Technician Grand Prix (ITGP) 2011, yang merupakan ajang kompetisi bagi seluruh teknisi Yamaha di Indonesia. Pagelaran yang digelar di Cihampelas Walk Bandung ini, untuk meningkatkan kualitas dan motivasi para teknisi agar mampu menjawab kebutuhan pasar terhadap pelayanan, perbaikan, serta perawatan.

Selain itu, ajang tersebut diharapkan dapat menambah kualitas teknisi Yamaha dalam menyambut pergantian teknologi dari kaburator menjadi fuel injection.  "Kami harapkan teknisi-teknisi Yamaha sudah siap, jika kami menerapkan teknologi fuel injection. Saat ini  teknologi injeksi baru diterapkan pada Yamaha V-Ixion," ujar General Manager Service Yamaha Motor Kencana Indonesia, Mangiring Siahaan di Bandung, Jawa Barat, Minggu malam, 27 November 2011.

Kompetisi ini diikuti oleh 14.000 teknisi di Indonesia. Kemudian diseleksi lagi menjadi 900 perserta. Dari situ, Yamaha mengerucutkan kembali menjadi 48 peserta. "Tahap pertama itu dilakukan tes teori, kemudian teori dan praktik. Dari 48 perserta, kami perkecil lagi menjadi 12. Dan akhirnya terpilih 6 orang, dimana juara 1 dan akan diberangkatkan ke Jepang," kata dia.

Dalam uji praktek, Yamaha sengaja meminta para tekniksi untuk menservice motor sport andalannya, yakni V-Ixion. "Kami ingin para teknisi mulai terbiasa dan tidak alergi lagi dengan teknologi fuel injection," katanya.

Yamaha memang sedikit tertinggal dari kompetitor utamanya, yakni Honda, dalam penerapan teknologi fuel injection pada setiap model sepeda motornya. Namun, kata Mangiring, sebelum diterapkan teknologi tersebut, perlu adanya peningkatan pengetahuan dari seluruh SDM teknisi Yamaha. "Jangan sampai nanti jika semua sepeda motor kami fuel injection, mekanik belum sepenuhnya menguasai motornya, termasuk saat melakukan service," kata dia.

Dalam kompetisi tersebut, Sutrisna Beni, teknisi dari bengkel Sumber Baru Motor 44, Yogyakarta keluar sebagai pemenang pertama dan akan dipersiapkan menjadi duta Indonesia dalam berkompetisi pada event kontes teknisi tingkat dunia atau World Technician Grand Prix di Jepang 2012.

Di posisi kedua ditempati oleh Martinus Dirga dari bengkel Mataram Sakti Bawen. Sedangkan di tempat ketiga, berhasil diraih oleh Mujianto, teknisi dari bengkel Timbul Jaya Motor, Kediri.

Kategori Best Theory dimenangi Sugeng Riadin dari Yamaha FSS Bandung, kategori Best practice Uam Hamdani dari Surya Putra Motor dan Best Customer Service diraih Ahsan Lutfi Yamaha FSS Semarang .

ITGP tingkat nasional telah dilaksanakan sebanyak 11 kali sejak tahun 2000. ITGP tahun ini merupakan pelaksanaan yang ke-12.

Indonesia telah mengikuti event tersebut sejak tahun 2003. Dan pada tahun 2007, Dewa Putu Guna Wirawan teknisi asal Bali dan Djarot Imam Kristanto asal Klaten Jawa Tengah yang berhasil meraih juara pertama dan ketiga dalam ajang kontes teknisi tingkat dunia itu

Selain menggelar ajang kompetisi teknisi, Yamaha juga menggelar kontes nasional tingkat Sekolah Menengah Kejuruan. Itu dilakukan mencari bibit-bibit unggul muda di bidang otomotif.

Untuk kontes SMK tahun ini dilakukan dalam dua tahapan, pertama tahap regional yang di lakukan di tiap daerah di seluruh Indonesia hingga terpilih 15 SMK juara regional. Selanjutnya tahap nasional yang melombakan ke 15 SMK tersebut hingga terpilih 3 juara nasional SMK kontes, yaitu SMK Pemkab Ponorogo (Jawa Timur), SMK MUH Kedawaung (Jawa Barat), dan SMK PGRI 1 Serang (Banten). Ketiganya mendapat hadiah satu unit sepeda motor praktek, uang tunai, dan perangkat praktek. (eh)
• VIVAnews

Jumat, 25 November 2011

Tukang Becak Paling Dermawan Di Dunia Itu Kini Tiada

Share this on :
0digg
بسم الله الرحمن الرحيم
Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.
Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

sumber : kaskus.us

Jumat, 18 November 2011

Astronot India Kembali Membuktikan Kebenaran Ucapan Neil Armstrong Tentang KOTA BERCAHAYA

بسم الله الرحمن الرحيم
Sebuah pesan pendek tersebar tentang kabar masuk Islamnya Sunita Williams, astronot wanita India pertama yang pergi ke bulan pada 2 Juli 2007 lalu.

Berita menghebohkan ini bukanlah yang pertama, sebelumnya astronot asal Amerika Serikat Neil Armstrong juga menyatakan dirinya masuk Islam sekembali dari bulan. Apakah ini berita bohong? Yang jelas pihak NON MUSLIM sangat tidak suka dengan pemberitaan ini. Lalu disebarlah kabar, bahwa ini berita bohong.

Perlu diketahui, Sunita Williams adalah seorang astronot kelahiran Ohio 19 September 1965 dari orang tua berketurunan India-Slovenia. Menikah dengan Michael J. William, seorang Polisi Federal di Oregon, USA. Sebagai astronot pertama India, dia memegang rekor perjalanan luar angkasa untuk wanita: berada diluar angkasa terlama (195 hari), dan berjalan diluar angkasa (29 jam, 17 menit).

Dalam perjalanannya ke bulan, Sunita William melihat fenomena yang aneh saat pandangannya menuju ke bumi. Ketika bagian bumi lainnya nampak gelap, ternyata ada sebagian kecil bumi yang nampak terang yaitu MAKKAH dan MADINAH.
Sunita mengatakan, dari atas seluruh permukaan bumi diselimuti kegelapan, namun betapa terkejutnya ketika dengan bantuan teleskop, ada dua tempat yang sangat berbeda, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua tempat itu nampak terang dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya dibelahan bumi. Masya Allah, Laa Quwwata Illa Billaah.

Selain itu, fenomena lain yang ditangkapnya adalah saat gelombang suara dari bumi tidak mampu merambah luar angkasa, dia ternyata bisa menangkap suara Adzan. Apakah ini suatu keanehan, atau merupakan suatu jalan dari Allah untuk menunjukkan sisi-sisi kebenaran kepada sang Astronout? Dikabarkan setelah peristiwa ini, Sunita Williams memeluk agama Islam.

Puluhan tahun yang lampau, tepatnya tahun 1870, Neil Amstrong pernah mengalami hal serupa saat mendaratkan kakinya di bulan. Dikabarkan saat itu dia mendengar sebuah suara yang dikemudian hari ia mengenalinya sebagai SUARA ADZAN

Tepatnya saat Neil diundang seminar di Universitas Kairo, Mesir. Di saat dia menyampaikan makalahnya, saat adzan berkumandang menunjukkan waktu shalat, moderator menghentikan presentasinya untuk mendengarkan adzan. Dan Neil berseru, “Ini dia suara yang pertama kali aku dengar saat mendarat di bulan.”

Setelah itu, Neil Amstrong menemui salah satu profesor di universitas itu. Dia ingin tahu banyak tentang Islam. Dan tidak lama setelah itu, dia pun menjadi muallaf. Pemberitaan masuk Islamnya Neil Armstrong dan Sunita William belakangan menjadi polemik di masyarakat.

Tetapi bagi kita umat muslim, tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan diri kita bahwa agama Islam adalah benar. Jika kita yakin berada di agama yang lurus, maka yakinlah bahwa hal itu benar. Kita tidak perlu menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agama kita. Percayalah, nama MUHAMMAD SAW sudah cukup besar buat kita dan dunia. Terlepas benar atau tidaknya Sunita William atau Neil Armstrong masuk Islam sepulang dari bulan, kita berharap Allah Swt memberi hidayah kepadanya.

Bagaimanapun juga para missionaris (NON MUSLIM) sangat tidak suka dengan pemberitaan ini. Padahal jika Allah menghendaki, ihwal terdengarnya suara azan di bulan, bukanlah suatu hil yang mustahal ataupun hal yang mustahil. Bisa saja terjadi. Dan Media Barat selamanya tidak akan pernah memberitakan hal-hal yang dianggap bisa "MENGGUNCANGKAN UMATNYA", bukan hanya di AS, tapi juga seluruh dunia.

Dan sekali lagi sejarah membuktikan bahwa sekalipun Islam dituduh sebagai "agama orang bodoh", "agama kampungan", "agama rendahan", "agama orang miskin", atau apapun tuduhannya, tetap saja orang yang berbondong2 mengikutinya rata rata berasal dari orang2 cerdas, orang yang tidak sekedar BERAKAL tetapi juga MEMPERGUNAKAN AKALNYA. Subhanallah, walhamdu lillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar.

Sabtu, 12 November 2011

INILAH SEHARUSNYA SIKAP PELATIH TIMNAS

Hiddink: Kekalahan Turki Tanggung Jawab Saya
Hiddink: Kekalahan Turki Tanggung Jawab Saya
Turki kalah, Guus Hiddink mengaku salah © AP
PEMAIN TERKAIT
13-11-2011 09:00
Bola.net - Pelatih Turki, Guus Hiddink memikul tanggung jawab penuh atas kekalahan memalukan timnya 3-0 di kandang sendiri atas Kroasia dalam leg pertama babak playoff Euro 2012 kemarin.

Hiddink sebelumnya mengungkapkan jika ia akan hengkang dari posisinya jika Turki tak melaju ke putaran final Euro 2012, dan setelah performa buruk anak asuhnya yang berujung kekalahan kemarin itu, pelatih asal Belanda mengakui itu sebagai kesalahannya.

"Saya bertanggung jawab penuh atas hasil ini. Para pemain memang harus melakukan eksekusi yang tepat, tapi saya yang sepenuhnya bertanggung jawab," tuturnya pada NTV Spor.

"Saya rasa posisi kedua kualifikasi di bawah Jerman merupakan ekspektasi yang realistis, tapi kami dihadapkan pada tim dengan pemain-pemain di liga besar yang amat kuat dan amat cepat. Bukan kebetulan jika para pemain mereka bermain di Liga Premier, Bundesliga - mereka punya pengalaman dalam kompetisi yang ketat."

"Jika Anda turun sejak menit pertama dan tak terorganisir dengan baik serta dipermainkan dengan amat mudahnya, maka laga sudah menjadi sulit sejak awal. Kami memberi mereka bantuan pada dua serangan balik, yang menjadi pembunuh kami," sesalnya.

Turki akan menghadapi laga leg kedua tengah pekan ini di Kroasia, namun Hiddink tak berharap banyak pada hasilnya.

"Saya pikir amatlah penting pada pemain berlaga untuk kehormatan mereka, untuk diri mereka sendiri, untuk negara mereka karena mari hadapi fakta, amat sulit, hampir mustahil bagi kami untuk lolos," lanjutnya. (espn/row)

Teruntuk Engkau Yang Mencintaiku...

بسم الله الرحمن الرحيم
Teruntuk engkau yang mencintaiku....
Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku.... Ijinkan aku berbicara tentang cinta padamu..

Wahai yang mencintaiku...
Sesungguhnya kata kata cintamu tak menjadi mata air yang jernih di padang pasir di tengah sahara hatiku, tetapi justru menjadi percikan api yang setiap saat mampu membakar diriku.
Membakar rindu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar cemburu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar semangat yang seharusnya hanya karena Rabb-ku..

Wahai yang mencintaiku...
Ungkapan perasaanmu tak membuat bunga-bunga di taman hatiku merekah. Tetapi justru membuat bunga itu layu sebelum mekar. Duri-duri bunga itu seketika tumpul. Lemah dan tak mampu lagi melindungi sari bungaku..

Wahai yang mencintaiku...
Sungguh kata- kata cintamu setajam pedang yang siap menebas apapun. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas semuanya itu. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu menebas nafsu dan gejolak hati yang kini meresahkan jiwamu ? hingga membuatmu menganiaya diri kamu sedemikian rupa...?

Wahai yang mencintaiku...
Aku bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Aku hanyalah manusia biasa yang juga menginginkan cinta. Kehadiranmu kuakui memang mampu memberi sebuah warna. Tapi entah mengapa itu jugalah yang membuatku tersiksa. Bukan aku tak mampu menghargai apa yang kau rasa. Tapi bukankah dengan begitu aku akan gagal mempertahankan hatiku yang selalu ingin terjaga..

Wahai yang mencintaiku...
Tidak-kah kau ingin cinta itu sesuci cintanya Ali dan Fatimah.
Dalam diam mereka mencinta.
Dalam rindu mereka berdo'a.
Jika karna cinta kau mampu menjadi seorang pujangga. Tidakkah kau ingin mempersembahkannya kepada cintamu yang sesungguhnya.... Allahu Rabbi, tak tahukah kau bahwa cemburu-Nya teramat luar biasa.?

Wahai yang mencintaiku...
Bukankah cinta sejati itu tak saling menyakiti.? Tapi taukah engkau, perasaan cinta yang kau bilang tak bisa terdiam terlalu lama, tapi bisa kau halalkan dengan segera itu sesungguhnya menyakiti jiwaku. Melalaikanku menjadi seorang hamba dan mendekatkanku pada angan-angan semu yang seharusnya tak boleh ada ..

Wahai yang mencintaiku... Renungkanlah...
Tak ada kebahagiaan yang sesungguhnya kurasa saat ini. Yang ada hanya kesibukan untuk selalu membenahi diri. Tak ada kata terlambat untuk segera memperbaiki.

Simpanlah cintamu hingga Allah memutuskannya nanti.

Salam dari yang kau cintai..

Conan Edogawa (From makassar city - for someone who loves me, please forgive me my dear, miss u so much)

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Ya Allah, seandainya telah Engkau catatkan dia milikku dan tercipta buatku, satukanlah hatinya dengan hatiku, titipkanlah kebahagiaan antara kami, agar kemesraan itu abadi

Tetapi Ya Allah, seandainya telah Engkau takdirkan Dia bukan milikku, bawalah dia jauh daripada pandanganku, luputkanlah dia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan

Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan...Menolak bayangannya jauh ke dada langit...Hilang bersama senja yang merah...Agar aku senantiasa tenang...Walaupun tanpa bersama dengannya...Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu...

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku...Di dunia dan akhirat...Dengarkanlah rintihan daripada hamba-Mu yang daif ini...Jangan Engkau biarkan aku sendirian...Di dunia ini mahupun di akhirat...Menjerumuskan aku ke arah kamaksiatan dan kemungkaran...Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman...Agar aku dan dia sama-sama dapat membina kesejahteraan hidup...Ke jalan yang Engkau redhai...Dan kurniakanlah kepadaku keturunan yang soleh dan solehah...

Ya Allah...Berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan akhirat...Dan periharalah kami dari azab api Neraka..

Bidadari Nan Bermata Jeli Dan Kerinduan Seorang Pemuda

بسم الله الرحمن الرحيم


Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.”

Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut.

Dia berkata, “Assalamu ’alaika wahai Abdul Wahid,”
Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.

Ketika kami sedang duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.”

Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.”
Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.”

Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu.”
Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.

Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu telah tiba.’ Kemudian aku berkata, ‘Assalamu ‘alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’

Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah telah datang suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahai waliyullah, kami ini sekedar budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan terus.’

Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan maju ke depan.’

Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silahkan maju lagi.’

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di se-buah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’

Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat datang waliyurrahman, telah hampir tiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘

Seketika itu aku bangun dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini aku sudah tidak bersabar lagi, ingin bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga lelaki itu.

Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya, kulihat tubuhnya berlumuran darah sementara bibirnya mengembang sebuah senyum, yang mengantarkan pada akhir hidupnya.” (Tanbihul Ghafilin, 395)
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Penerbit Darul Haq